Bimbel Masih Jadi Pilihan Siswa Persiapkan Diri Masuk SBMPTN

Kompas.com - 04/09/2020, 14:26 WIB
Potret pelajar yang menggunakan platform bimbingan belajar secara online. DOK. ZENIUSPotret pelajar yang menggunakan platform bimbingan belajar secara online.

KOMPAS.com - Di tengah masa pandemi, eksistensi bimbingan belajar ( bimbel) dengan tujuan untuk membantu pelajar mempelajari materi dan lulus tes masuk Perguruan Tinggi (PT) masih bertahan hingga sekarang.

Berdasarkan artikel Kompas.com, bimbel sudah ada di Indonesia sejak sekitar akhir 1970-an. Awalnya, bimbel muncul untuk melatih siswa SMA yang akan mengikuti tes masuk ke PT.

Setelah 20 tahun berlalu, kehadiran bimbel pun semakin menjamur. Target pengajarannya juga meluas. Mereka mulai mengajar siswa pada jenjang 3 SMA untuk menyiapkan pelajar mengikuti Ujian Nasional (UN).

Baca juga: Kapan Anak Ikut Bimbel? Orangtua, Perhatikan 3 Hal Ini

Selain itu, bimbel membuka layanan bagi siswa kelas 1 dan 2 SMA untuk meningkatkan nilai ulangan harian serta naik kelas dengan nilai memuaskan.

Jumlah bimbel pun mencapai angka 1866 dalam data Direktorat Pembinaan Khusus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) pada 2017.

Hingga saat ini, beberapa lembaga atau instansi bimbel juga ikut bertransformasi ke ranah digital.

Di Indonesia, Zenius menjadi salah satu pionir yang menawarkan solusi belajar online dan berfokus dalam pemahaman konsep serta penalaran ilmiah.

Dampak ikut bimbel online

Terkait pasca pengumuman hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SBMPTN) 2020, Zenius melakukan survei kepada penggunanya mengenai kelulusan Ujian Tulis Berbasis Komputer ( UTBK).

Hasilnya, sebanyak 14.512 dari 24 ribu pengguna platform bimbel daring ini berhasil lulus SBMPTN.

“Tentunya kami senang dapat membantu perjuangan dan turut mengantarkan mereka ke perguruan tinggi yang diimpikan,” imbuh Co-founder dan Chief Education Officer Zenius Sabda PS pada Kamis (3/9/2020) lewat rilis pers.

Dengan memanfaatkan layanan bimbel daring, Atirotul Jannah merasa terbantu untuk tetap belajar meski harus melakukan karantina akibat pandemi virus Covid-19.

Halaman: